
Kepala BSKAP Kemdikbudristek Anindito Aditomo (Foto: Muti/Jurnas.com)
Jakarta, Jurnas.com - Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), Anindito Aditomo mengklaim bahwa Asesmen Nasional (AN) merupakan asesmen pendidikan terbesar di dunia.
Pasalnya, evaluasi kualitas pembelajaran di satuan pendidikan tersebut diikuti oleh 6,5 juta murid pada 2022. Jumlah ini jauh lebih besar daripada asesmen Programme for International Student Assessment (PISA), yang hanya melibatkan 600.000 peserta.
"Di Indonesia, PISA itu cuma di 400 sekolah atau 6.000 murid. Bandingkan dengan AN, yang ikut tahun ini 350.000 sekolah, 7 juta murid, dan 3,8 juta kepala sekolah dan guru," terang Anindito di Jakarta pada Sabtu (16/9).
Berbeda dari Ujian Nasional (UN) yang hanya mengukur hasil pembelajaran, AN menilai keberhasilan pendidikan berdasarkan kualitas, yang meliputi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yakni literasi dan numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.
AN juga menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah di bidang pendidikan. Anindito mengatakan, apabila dulunya indikator kesuksesan pendidikan dipatok melalui angka putus sekolah, akses, hingga Angka Partisipasi Kasar (APK), kini bergeser menjadi AKM, kesenjangan antarsekolah, hingga tingkat kenyamanan siswa belajar di sekolah.
"Jadi yang diukur apakah murid memiliki literasi dan numerasi yang tinggi, apakah sekolah aman dari perundungan, atau apakah ada kesenjangan antara sekolah favorit," ujar Anindito.
Anindito menambahkan, pemahaman menjadi penekanan dalam AN, alih-alih hanya menghafal materi setiap mata pelajaran (mapel). Hal ini dilakukan semata-mata untuk mengasah daya berpikir kritis para peserta didik.
"Bukan kontennya yang ingin kita ukur. Tapi ketika dihadapkan pada sebuah bacaan, poster, posting di Instagram, Twitter, itu dia bisa enggak menyerap intisarinya, menerjemahkan dengan tepat kemudian mengevaluasi ini bener enggak ya," kata dia.
"Pemahaman dan evaluasi kritis itu fondasi untuk semuanya. Kalau 12 tahun tidak bisa itu, itu tragedi besar," tutup dia.
KEYWORD :Asesmen Nasional Kemdikbudristek Anindito Aditomo