Sabtu, 05/04/2025 06:15 WIB

Misteri Lebak Bulus: Sejarah dan Mitos yang Membangun Namanya

Misteri Lebak Bulus: Sejarah dan Mitos yang Membangun Namanya

Ilustrasi Misteri Lebak Bulus - Stasiun Lebak Bulus Grab | MRT Jakarta (Foto: MRT Jakarta)

Jakarta, Jurnas.com - Lebak Bulus—sebuah nama yang kini identik dengan kawasan urban di Jakarta Selatan—memiliki cerita panjang yang kaya akan sejarah dan mitos. Dari yang awalnya sebuah daerah yang asri, hingga kini menjadi salah satu pusat transportasi, Lebak Bulus menyimpan kisah menarik yang sayang untuk dilewatkan.

Dari Alam ke Urban: Sejarah Singkat Nama Lebak Bulus

Nama "Lebak Bulus" bukan sekadar sebutan untuk sebuah kawasan di Jakarta Selatan, tetapi juga mengandung sejarah yang erat kaitannya dengan alam dan budaya lokal. Menurut banyak cerita, "Lebak" dalam bahasa Sunda merujuk pada dataran rendah atau lembah, sementara "Bulus" sendiri dipercaya merujuk pada penyu, hewan yang konon banyak ditemukan di daerah tersebut pada zaman dulu.

Pada masa lalu, Lebak Bulus dikenal dengan lingkungan yang subur, dekat dengan sungai, dan kaya akan keanekaragaman hayati. Penyu-penyu yang ditemukan di area ini menjadi bagian dari cerita lokal yang hingga kini masih dikenang. Keberadaan penyu tersebut menjadi simbol dari ketenangan, kedamaian, dan keharmonisan dengan alam.

Mitos dan Asal Usul Nama

Banyak yang percaya bahwa nama Lebak Bulus berawal dari keberadaan banyaknya penyu di kawasan ini. Sebagian besar cerita lokal menyebutkan bahwa kawasan ini dulunya dihuni oleh penyu-penyu yang berenang bebas di sungai dan perairan sekitar. “Bulus,” yang dalam bahasa Sunda berarti penyu, menjadi simbol kuat dari kawasan yang indah dan alami tersebut.

Namun, selain cerita tentang penyu, ada juga yang mengatakan bahwa nama Lebak Bulus bisa berasal dari kata “lebak” yang berarti tanah rendah atau lembah, yang cocok untuk pertanian. Di masa lalu, daerah ini memang dikenal sebagai kawasan yang subur dan cocok untuk bertani. Jadi, nama Lebak Bulus bukan hanya menggambarkan lingkungan yang kaya akan fauna, tetapi juga tanah yang subur dan bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Transformasi Lebak Bulus: Dari Lahan Pertanian ke Pusat Transportasi

Seiring berjalannya waktu, kawasan ini mengalami perubahan besar. Di tahun 1970-an, Lebak Bulus mulai berkembang dengan pesat. Dari daerah yang dulunya dipenuhi sawah dan perkebunan, kini menjadi kawasan yang padat penduduk dan pusat infrastruktur kota. Keberadaan Terminal Lebak Bulus yang menjadi salah satu terminal utama di Jakarta, dan kini juga menjadi bagian dari jalur MRT, menandai transformasi kawasan ini dari desa menjadi kota yang dinamis.

Meski begitu, meskipun telah banyak mengalami urbanisasi, sebagian orang masih mengingatkan kita tentang asal-usul kawasan ini—sebuah daerah yang kaya akan budaya, alam, dan cerita rakyat.

Lebak Bulus di Era Modern

Hari ini, Lebak Bulus bukan hanya dikenal karena terminalnya yang sibuk atau jalur MRT yang menghubungkan Jakarta Selatan dengan berbagai kawasan lainnya. Kawasan ini kini juga menjadi salah satu titik sentral yang menghubungkan kawasan perumahan elit, pusat bisnis, dan destinasi wisata. Meskipun kawasan ini telah berubah menjadi urban, nama Lebak Bulus tetap menggambarkan jejak sejarah yang masih relevan dengan perkembangan kota Jakarta.

Masyarakat Jakarta, yang kini sering melintasi kawasan ini, mungkin tidak tahu banyak tentang asal-usul nama tersebut. Namun, bagi sebagian orang, cerita tentang penyu dan keseimbangan alam yang ada di balik nama Lebak Bulus masih menjadi bagian dari ingatan kolektif, yang menghubungkan kita dengan masa lalu yang lebih sederhana dan alami.

KEYWORD :

Lebak Bulus Misteri Jakarta sejarah dan mitos




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :