Rabu, 26/02/2025 20:13 WIB

Benarkah Ghibah atau Gosip Lebih Berbahaya dari Zina? Simak Penjelasannya

Ghibah, atau yang lebih dikenal dengan istilah bergosip, mungkin sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tahukah Anda bahwa perbuatan ini ternyata memiliki dampak yang sangat serius dalam pandangan Islam?

Ilustrasi dua orang perempuan sedang asyik berghibah atau bergosip (Foto: Pexels/cottonbro studio)

Jakarta, Jurnas.com - Ghibah, atau yang lebih dikenal dengan istilah bergosip, mungkin sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tahukah Anda bahwa perbuatan ini ternyata memiliki dampak yang sangat serius dalam pandangan Islam? Ghibah bukan hanya sekadar perbuatan ringan; menurut ajaran Islam, ia memiliki dampak yang jauh lebih serius, bahkan disebutkan lebih berbahaya daripada zina. 

Dalam bahasa Arab, ghibah mengacu pada tindakan membicarakan keburukan atau aib seseorang yang tidak hadir dalam percakapan. Lantas, apa sebenarnya yang membuat perbuatan ini begitu berbahaya dan bagaimana Islam menggambarkannya? Berikut ini adalah penjelasannya yang dikutip dari laman Nahdlatul Ulama dan berbagai sumber lainnya.

Apa Itu Ghibah dalam Pandangan Islam?

Secara bahasa, ghibah berasal dari bahasa Arab yang artinya "membicarakan keburukan atau aib orang lain." Dalam konteks Islam, ghibah adalah membicarakan atau mengungkapkan keburukan seseorang yang tidak hadir dalam perbincangan tersebut, baik itu secara lisan, tulisan, atau bahkan melalui bahasa tubuh.

Salah satu penjelasan Rasulullah SAW mengenai ghibah dapat ditemukan dalam hadis berikut:

“Tahukah kalian, apa itu ghibah?” tanya Rasulullah SAW. Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah SAW pun menjelaskan, “Ghibah adalah kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang tidak ia sukai.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika yang saya katakan itu memang benar adanya?” Rasulullah SAW menjawab, “Jika yang kamu katakan itu memang benar, berarti kamu telah menggunjingnya. Namun, jika yang kamu katakan itu tidak benar, berarti kamu telah berbohong tentangnya.” (HR. Muslim)

Bentuk-Bentuk Ghibah

Ghibah bisa terjadi dalam berbagai bentuk, tidak hanya sebatas pembicaraan lisan. Ghibah lisan adalah ketika seseorang membicarakan keburukan orang lain di depan orang lain, tanpa kehadiran orang yang dibicarakan.

Selain itu, ghibah juga bisa terjadi melalui tulisan, seperti dalam surat, artikel, atau pesan di media sosial, yang menyebarkan keburukan seseorang. Tak hanya itu, ghibah juga bisa terjadi lewat bahasa tubuh, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, atau menirukan perilaku orang yang sedang dibicarakan dengan maksud mengejek atau mengolok-oloknya.

Ghibah Lebih Berbahaya dari Zina?

Dalam ajaran Islam, ghibah dianggap sebagai dosa yang sangat serius. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyatakan:

“Ghibah itu lebih berat dari zina,” (HR. At-Thabrani). Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana bisa demikian?” Rasulullah SAW menjelaskan, “Seorang pria yang berzina kemudian bertobat, Allah akan menerima tobatnya. Namun, orang yang berbuat ghibah tidak akan diampuni sampai orang yang dighibah memaafkannya.”

Sungguh, ghibah adalah perbuatan yang memiliki akibat sangat berat, bahkan bisa menghapus pahala seseorang jika tidak segera ditobati.

Dosa Ghibah dalam Al-Qur`an dan Hadis

Al-Qur`an pun mengingatkan tentang bahaya besar dari ghibah dalam Surat Al-Hujurat ayat 12:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Adakah seseorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menggambarkan betapa jijiknya perilaku ghibah di mata Allah. Bahkan, Allah mengibaratkannya seperti memakan daging saudaranya yang sudah mati, sebuah gambaran yang sangat mengerikan untuk menggambarkan keburukan perbuatan ini.

Rasulullah SAW juga menggambarkan betapa beratnya dosa ghibah dalam hadis berikut:

“Pada hari kiamat, orang yang melakukan ghibah akan dimintai pertanggungjawaban oleh orang yang dighibah. Jika orang yang dighibah itu belum memaafkan, maka amal baik orang yang melakukan ghibah akan diberikan kepada orang yang dighibah. Jika amal baiknya habis, maka dosa orang yang dighibah akan ditimpakan padanya.” (HR. Muslim)

“Siapa saja yang meninggal dalam keadaan terbiasa berbuat ghibah, maka dia adalah orang yang paling awal masuk neraka.” (Hadis Riwayat At-Thabrani)

Lebih mengerikan lagi, di akhirat kelak, pelaku ghibah akan mendapatkan balasan yang sangat berat. Segala amal baik yang dimilikinya akan dibayar oleh orang yang pernah dizaliminya, termasuk orang yang telah dighibah. Setelah itu, dosa dari orang yang dighibah akan ditimpakan pada dirinya, dan akibatnya, dia akan menjadi orang yang bangkrut di hadapan Allah.

Menghindari Ghibah

Sebagai umat Islam, kita harus berusaha keras untuk menghindari ghibah, karena dampaknya sangat merugikan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjaga lisan kita agar tidak membicarakan keburukan orang lain. Jika terpaksa membicarakan orang lain, pastikan tidak ada keburukan yang disampaikan. Selain itu, jika kita merasa pernah dighibah, berusahalah untuk memaafkan agar tidak menambah beban dosa. Yang terpenting, jika kita pernah terjerumus dalam ghibah, segera bertobat kepada Allah dan berusaha memperbaiki diri. (*)

KEYWORD :

Bahaya Ghibah Gosip Dosa Ghibah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :