
Gedung Bundar Kejaksaan Agung.
Jakarta, Jurnas.com - Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan dua tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang dalam PT Pertamina Persero, subholding dan K3KS 2018-2023.
Mereka adalah Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga Pertamina Patra Niaga Maya Kusmaya dan Edward Corne selaku VP Trading Operation Pertamina Patra Niaga.
"Penyidik telah menemukan bukti cukup bahwa kedua tersangka diduga melakukan tindak pidana bersama tujuh tersangka yang telah kami sampaikan," kata Dirdik Jampidsus Kejagung Abdul Qohar dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu malam 26 Februari 2025.
Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik memeriksa keduanya sebagai saksi pada Rabu sore. Kemudian, penyidik menemukan bukti cukup adanya keterlibatan keduanya dalam kasus ini.
Penyidik pun langsung melakukan penahanan terhadap Maya dan Edward untuk 20 hari ke depan dalam rangka kepentingan penyidikan. Keduanya ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejagung.
"Selanjutnya tim penyidik melakukan penahanan selama 20 hari ke depan," katanya.
Kejagung telah menetapkan tujuh orang tersangka yang terdiri dari empat pegawai Pertamina dan tiga pihak swasta. Salah satunya yakni Riva Siahaan selaku Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga.
Kemudian SDS selaku Direktur Feed stock and Product Optimization PT Kilang Pertamina Internasional, YF selaku Direktur Utama PT Pertamina International Shiping, AP selaku VP Feed stock Management PT Kilang Pertamina International.
Selanjutnya MKAN selaku Beneficial Owner PT Navigator Khatulistiwa, DW selaku Komisaris PT Navigator Khatulistiwa sekaligus Komisaris PT Jenggala Maritim, dan YRJ selaku Komisaris PT Jenggala Maritim sekaligus Dirut PT Orbit Terminal Mera.
Kejagung menyebut total kerugian kuasa negara dalam perkara korupsi ini mencapai Rp193,7 triliun. Rinciannya yakni kerugian ekspor minyak mentah dalam negeri sekitar Rp35 triliun, kemudian kerugian impor minyak mentah melalui DMUT/Broker sekitar Rp2,7 triliun.
Selain itu kerugian impor BBM melalui DMUT/Broker sekitar Rp9 triliun; kerugian pemberian kompensasi (2023) sekitar Rp126 triliun; dan kerugian pemberian subsidi (2023) sekitar Rp21 triliun.
KEYWORD :Kejaksaan Agung Kejagung RI Korupsi Minyak Mentah Pertamina