
Ilustrasi kemiripan antara manusia dan babi (Foto: Pexels/Rdne Stck Project)
Jakarta, Jurnas.com - Babi dan manusia ternyata memiliki lebih banyak kemiripan daripada yang sering kita bayangkan. Meskipun secara fisik tampak berbeda, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keduanya memiliki persamaan atau kemiripan yang cukup mencengangkan.
Kemiripan genetik antara babi dan manusia sangat tinggi, dengan sekitar 98% DNA-nya mirip. Bahkan, lebih tinggi daripada kemiripan DNA manusia dengan simpanse atau baboon. Kemiripan ini membuat babi sering digunakan dalam penelitian medis, terutama dalam mempelajari penyakit manusia seperti diabetes, penyakit jantung, dan bahkan transplantasi organ termasuk organ ginjal.
Saking miripnya, menurut buku Swine in the Laboratory karya M. Michael Swindle, kemiripan ini sangat berpotensi untuk lebih mnegembangkan dunia kedokteran di masa depan. Tak heran, dari sekadar kapsul atau benang jahit luka yang berbahan dasar babi yang terbukti mudah menyatu dengan tubuh manusia, kini perkembangannya lebih pesat.
Selain itu, sistem pencernaan babi juga sangat mirip dengan manusia. Sebagai omnivora, babi bisa mencerna berbagai jenis makanan, baik tumbuhan maupun daging, yang menjadikannya subjek penelitian yang ideal dalam bidang pencernaan dan metabolisme manusia. American Journal of Physiology mencatat bahwa struktur sistem pencernaan babi hampir identik dengan manusia, yang memudahkan para peneliti memahami cara tubuh manusia mengelola nutrisi.
Tak hanya itu, kecerdasan babi juga patut diacungi jempol. Penelitian menunjukkan bahwa babi memiliki kemampuan memecahkan masalah, mengenali wajah, dan bahkan belajar trik, yang tak kalah dengan anjing, hewan yang sering dianggap lebih pintar. The Oxford Handbook of Comparative Cognition mengungkapkan bahwa babi mampu melakukan tugas-tugas kognitif yang sulit, bahkan lebih baik daripada beberapa spesies hewan lainnya.
Babi juga memiliki kemampuan kesadaran diri yang mengagumkan. Mereka bisa mengenali diri mereka sendiri di cermin, sebuah tanda kemampuan kognitif yang hanya dimiliki oleh beberapa spesies seperti manusia dan primata. Menurut studi yang dipublikasikan dalam Animal Behaviour, eksperimen menunjukkan bahwa babi dapat lulus uji cermin, yang menunjukkan adanya kesadaran diri.
Lebih menariknya lagi, babi mampu merasakan berbagai emosi, mirip dengan manusia. Mereka bisa merasa cemas, senang, atau stres, serta membentuk ikatan sosial yang kuat dengan individu lain, menunjukkan kedalaman emosional mereka. Sebuah studi di Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa babi memiliki respons emosional yang serupa dengan manusia dalam berbagai situasi sosial.
Babi pun memiliki sistem komunikasi yang cukup canggih. Mereka menggunakan suara untuk menyampaikan perasaan dan kebutuhan, bahkan bisa mengenali suara tertentu, seperti nama mereka, yang menunjukkan cara berkomunikasi sosial mirip manusia. Penelitian dalam Animal Cognition menjelaskan bahwa babi dapat berinteraksi melalui vokalisasi yang mencerminkan perasaan dan kebutuhan mereka, serupa dengan bagaimana manusia berkomunikasi.
Dalam hal reproduksi, babi juga menunjukkan kesamaan dengan manusia. Betina babi mengalami siklus menstruasi dan kehamilan dengan durasi yang cukup mirip, yaitu sekitar 3 bulan, 3 minggu, dan 3 hari, meskipun ada perbedaan dalam ukuran dan durasi kehamilan. Menurut The Journal of Reproductive Medicine, siklus reproduksi babi sangat mirip dengan manusia, membuat mereka menjadi model yang berguna dalam penelitian reproduksi.
Kemampuan memori babi juga patut diperhitungkan. Mereka dapat mengingat lokasi, wajah, dan peristiwa penting dalam hidup mereka, yang membuktikan bahwa babi memiliki kapasitas ingatan yang luar biasa. Sebuah penelitian yang diterbitkan di Behavioural Brain Research menemukan bahwa babi memiliki memori spasial yang sangat baik, yang memungkinkan mereka untuk mengingat dan menavigasi lingkungan mereka dengan efisien.
Kesamaan-kesamaan ini membuka banyak peluang dalam penelitian, terutama di bidang medis. Selain itu, pemahaman ini juga mengingatkan kita akan pentingnya menghargai keberagaman hayati dan menjaga keseimbangan ekosistem yang ada di bumi. Dengan semakin banyaknya bukti ilmiah yang mendukung hubungan dekat antara babi dan manusia, kita dapat lebih menghargai makhluk hidup ini, baik dalam penelitian maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kesamaan-kesamaan ini membuka banyak peluang dalam penelitian, terutama di bidang medis. Selain itu, pemahaman ini juga mengingatkan kita akan pentingnya menghargai keberagaman hayati dan menjaga keseimbangan ekosistem yang ada di bumi. (*)
KEYWORD :Kemiripan Babi dan Manusia DNA babi Persamaan dengan Manusia