Kamis, 03/04/2025 18:27 WIB

Asal Usul Kue Nastar, Mengapa Jadi Hidangan Khas Lebaran?

Tahukah Anda bahwa meski identik dengan Lebaran, kue nastar sesungguhnya bukan asli Indonesia? Begini asal-usul kue nastar yang telah menjadi tradisi di tengah masyarakat Indonesia

Ilustrasi kue nastar (Foto: IDN Times)

Bandung, Jurnas.com - Kue nastar, si kue kecil berbentuk bulat kecil berisi selai nanas, sudah begitu lekat dengan perayaan Lebaran. Setiap tahun, saat hari Raya seperti Idulfitri tiba, nastar seolah menjadi bintang utama atau primadona dalam deretan kue kering yang menghiasi meja tamu.

Namun, tahukah Anda bahwa meski identik dengan Lebaran, kue ini sesungguhnya bukan asli Indonesia? Begini asal-usul kue nastar yang telah menjadi tradisi di tengah masyarakat Indonesia, yang dikutip dari berbagai sumber.

Meskipun popularitasnya melejit di Indonesia, kue nastar sesungguhnya berasal dari Belanda. Nama "Nastar" sendiri merupakan gabungan dari dua kata Belanda: "Ananas" yang berarti nanas dan "Taart" yang berarti tart, atau pai. Dikutip dari Indonesian Chef Association, asal-usul kue ini berakar pada kue pai khas Eropa yang biasanya diisi dengan buah-buahan seperti stroberi, apel, atau blueberry.

Namun, saat masa penjajahan Belanda di Indonesia, beberapa bahan tersebut sulit diperoleh di Tanah Air. Lantas, nanas yang melimpah di Indonesia pun dipilih sebagai pengganti, berkat rasa manis dan sedikit asam yang mirip dengan buah-buahan Eropa tersebut. Tradisi membuat kue nastar ini pun tidak hanya terbatas pada masyarakat biasa, tetapi pada masa kolonial, kue ini menjadi sajian eksklusif bagi kaum bangsawan atau priyayi.

Seiring berjalannya waktu, kue nastar berkembang dan mengalami banyak perubahan untuk menyesuaikan diri dengan budaya dan selera orang Indonesia. Bentuknya yang bulat kecil, dengan tambahan cengkeh, kismis, atau bahkan keju di atasnya, membuatnya menjadi camilan praktis yang bisa dinikmati dalam sekali gigit. Selain itu, resep nastar pun telah mengalami modifikasi, dengan berbagai pilihan isian seperti keju, cokelat, bahkan stroberi.

Kini, nastar tidak hanya muncul saat Lebaran, tetapi juga menjadi sajian wajib dalam perayaan hari besar lainnya seperti Natal, Tahun Baru, hingga Imlek. Dalam budaya Tionghoa, kue nastar memiliki makna simbolis sebagai "buah pir emas" yang melambangkan kemakmuran dan keberuntungan. Karena warnanya yang kuning keemasan, masyarakat Tionghoa percaya bahwa memakan kue nastar membawa keberuntungan.

Pada masa kini, saat Lebaran tiba, nastar tak hanya menjadi kue yang dinikmati, tetapi juga simbol kebersamaan. Biasanya, kue ini disajikan berbarengan dengan kue-kue kering lainnya seperti Kastengel dan Putri Salju. Tak jarang, Nastar dijadikan hadiah dalam bentuk hampers yang dikirimkan kepada keluarga, sahabat, atau kolega sebagai ungkapan silaturahmi. Tidak hanya dijual di pasar atau toko kue, kini banyak orang yang lebih memilih membuatnya sendiri di rumah, sehingga memberi sentuhan personal dalam setiap gigitan.

Meskipun demikian, penjual kue nastar tetap mudah ditemukan menjelang hari raya, dan bahkan ada yang menyediakan secara daring untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang ingin menikmati kue ini meski di luar musim Lebaran. Kue nastar telah menjadi bagian dari tradisi yang mengikat keluarga, teman, dan komunitas dalam merayakan hari-hari besar, menjadi simbol manisnya kebersamaan.

Tak hanya di Indonesia, kue Nastar juga dikenal di negara-negara lain, terutama di Hong Kong dan Tiongkok. Di Indonesia, Nastar biasanya berbentuk bulat kecil dengan ukuran sekitar dua sentimeter, sedangkan di Hong Kong, kue ini sering disajikan dalam bentuk balok dengan ukuran yang lebih besar, sekitar lima sentimeter.

Itulah beberapa informasi mengenai asal usul kue nastar, salah satu kue kering yang identik, primadona saat lebaran tiba di Indonesia. Semoga bermanfaat, menambah pengetahuan. (*)

KEYWORD :

Kue nastar Hari Raya Idul Fitri Hidangan khas Lebaran




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :