
Ilustrasi sedang bersilatuhami saat momen lebaran, Idul Fitri (Foto: Pexels/RDNE Stock Project)
Bandung, Jurnas.com - Momen Idulfitri atau Lebaran merupakan salah satu momen yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Momen kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa Ramadan ini, tidak hanya dirayakan dengan kebahagiaan, namun juga dengan tradisi yang mengikat hubungan sosial, salah satunya melalui silaturahmi atau silaturahim.
Namun, terkadang sering kali muncul kebingungan mengenai dua kata yang mirip tapi berbeda tersebut, antara silaturahmi dan silaturahim. Memahami perbedaan keduanya akan memperkaya makna dari setiap ucapan dan tindakan, khususnya dalam menjaga hubungan kekeluargaan dan persaudaraan. Berikut adalah ulasannya yang dikutip dari berbagai sumber.
Pada dasarnya, baik silaturahmi maupun silaturahim mengandung arti yang hampir serupa, yaitu menjaga hubungan persahabatan atau kerukunan dengan sesama. Namun, terdapat perbedaan subtansial dalam penggunaannya yang sering kali menimbulkan kebingungan.
Mengutip laman resmi Muhammadiyah, kata silaturahim berasal dari kata shilat ar-rahim yang artinya adalah menyambung hubungan keluarga atau kerabat yang memiliki hubungan darah. Kata tersebut juga berkaitan dengan kasih sayang. Sementara silaturahmi berasal dari kata shilat ar-rahmi, yang lebih luas maknanya, mencakup kasih sayang antar sesama manusia, baik dalam lingkup keluarga maupun teman.
Menurut Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim, silaturahim merujuk pada perbuatan baik kepada kerabat dekat, seperti memberikan bantuan, mengunjungi, hingga memberi salam. Dalam konteks ini, silaturahim lebih mengarah pada hubungan yang terjalin antar anggota keluarga, yang memang secara alami memiliki ikatan darah.
Di sisi lain, silaturahmi, meski berasal dari akar kata yang sama, lebih merujuk pada kasih sayang yang universal. Artinya, silaturahmi mencakup tindakan menjaga hubungan baik tidak hanya dengan keluarga, tetapi juga dengan teman dan sesama umat manusia.
Silaturahmi dalam Tradisi Lebaran
Lebaran di Indonesia, yang identik dengan tradisi mudik, menjadi saat yang sangat tepat untuk mempererat tali persaudaraan. Saat itulah kita kembali ke kampung halaman, bertemu dengan keluarga besar, teman atau kerabat hingga tetangga dan melakukan silaturahmi. Bagi banyak orang, Lebaran bukan hanya soal saling memberi maaf, namun juga soal memperbaharui ikatan kasih sayang yang mungkin sudah lama tidak terjalin.
Meskipun sering kali diidentikkan dengan pertemuan fisik, silaturahmi tidak terbatas hanya pada kunjungan atau pertemuan langsung. Dalam dunia digital saat ini, menjaga hubungan melalui media sosial, telepon, atau pesan singkat juga tetap bisa disebut silaturahmi asalkan tujuan utamanya ialah menjaga hubungan baik dan menghindari permusuhan.
Hikmah Silaturahmi dan Silaturahim
Mengutip laman Nahdlatul Ulama, dalam Islam, silaturahmi dan silaturahim bukanlah sekadar tradisi, melainkan bagian dari ajaran agama yang penuh hikmah. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa siapa pun yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia mempererat silaturahmi dan silaaturahim. Hadits ini jelas menunjukkan bahwa ada keberkahan yang terkandung dalam menjaga hubungan baik dengan saudara dan kerabat.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Riwayat Tirmidzi:
"Belajarlah dari nasab-nasabmu hal-hal yang mempererat persaudaraan, sesungguhnya mempererat persaudaraan menumbuhkan kecintaan terhadap sanak saudara, memperbanyak rejeki (harta), dan memperpanjang umur." (HR. Tirmidzi).
Hikmah pertama adalah membangun cinta dalam keluarga. Ketika kita berkunjung atau menjalin komunikasi dengan keluarga, hubungan yang erat akan tercipta, sehingga muncul semangat gotong royong dan saling membantu. Ini tentu saja memperkuat ikatan persaudaraan dalam masyarakat.
Kedua, memperbanyak rezeki. Rezeki datang bukan hanya dari usaha pribadi, tetapi juga dari hubungan baik dengan sesama. Silaturahmi memungkinkan kita untuk membuka lebih banyak kesempatan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal pekerjaan atau bisnis.
Ketiga, memperpanjang umur. Makna ini bisa dipahami secara harfiah, yaitu dengan melakukan kebaikan dan silaturahmi, umur seseorang bisa lebih panjang. Namun, ada pula makna majaznya, yakni seseorang yang banyak berbuat kebaikan dan menjaga hubungan sosial akan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk beramal baik, meskipun umurnya tidak panjang.
Itulah informasi mengenai beberapa perbedaan antara silaturahmi dan silaturahim serta keutamaannya. Semoga bermanfaat, menambah wawasan.(*)
Wallohu`alam
KEYWORD :Lebaran Idul Fitri Tradisi Silaturahmi Silaturahim