Jum'at, 04/04/2025 09:30 WIB

Mengapa Syawal Disebut Sebagai Bulan Kemenangan? Ini Penjelasannya

Syawal, bulan kesepeluh dalam kalender Hijriah, yang terletak antara bulan Ramadan dan Dzulkaidah, seringkali disebut sebagai bulan kemenangan bagi umat Islam. Istilah ini muncul seiring dengan perayaan Idulfitri yang jatuh pada 1 Syawal

Ilustrasi umat Islam memasuki bulan Syawal, yang sering disebut sebagai bulan kemenangan (Foto: Pexels/Chattrapal (Shitij) Singh)

Jakarta, Jurnas.com - Syawal, bulan kesepeluh dalam kalender Hijriah, yang terletak antara bulan Ramadan dan Dzulkaidah, seringkali disebut sebagai bulan kemenangan bagi umat Islam. Istilah ini muncul seiring dengan perayaan Idulfitri yang jatuh pada 1 Syawal, yang merupakan hari puncak setelah sebulan penuh umat Islam menjalankan ibadah puasa.

Namun, apakah tepat Syawal diartikan hanya sebagai bulan kemenangan? Dan apa makna di balik sebutan ini? Berikut ini adalah ulasannya yang dikutip dari berbagai sumber.

Sebagian besar umat Islam merayakan Idulfitri dengan perasaan bahagia, penuh rasa syukur atas pencapaian puasa yang telah dilakukan selama Ramadan. Istilah kemenangan seringkali dilontarkan, dengan harapan bahwa kemenangan melawan hawa nafsu dan godaan selama sebulan penuh menjadi sebuah pencapaian. Namun, menurut ahli tafsir ternama Prof. Quraish Shihab, pengartian "hari kemenangan" ini perlu diluruskan.

Dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, Prof. Quraish Shihab menekankan bahwa kemenangan bukanlah hal yang tepat untuk menggambarkan Idulfitri. Menurutnya, kemenangan berarti berhasil dalam suatu kompetisi atau pertarungan, namun selama Ramadan, umat Islam tidak berhadapan dengan pihak lain secara fisik.

Lalu, kemenangan atas siapa yang sebenarnya dicapai? Apakah melawan nafsu dan setan? Sebagaimana kita ketahui, perjuangan melawan hawa nafsu adalah perjuangan seumur hidup, yang tidak berhenti setelah Ramadan.

Salah satu hal yang sering terlupakan dalam perayaan Idulfitri adalah pentingnya refleksi dan rasa syukur. Kata "Id" dalam bahasa Arab, yang berasal dari kata al-‘adah atau al-‘audah, berarti "kembali" atau "kebiasaan." Hal ini mengingatkan kita bahwa Hari Raya Idulfitri bukan hanya tentang perayaan sesaat, tetapi juga sebagai pengingat untuk kembali pada kebiasaan-kebiasaan baik yang telah kita lakukan selama Ramadan, seperti meningkatkan ibadah, berbagi, dan membersihkan hati.

Tidak hanya itu, Id juga berarti kebahagiaan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa setiap umat memiliki hari raya mereka sendiri, dan Idulfitri adalah hari raya umat Islam. Itu adalah hari penuh kebahagiaan dan rasa syukur, sebagaimana yang diperlihatkan dalam riwayat yang menggambarkan kegembiraan Aisyah dan para sahabatnya menyambut hari raya tersebut.

Syawal Sebagai Waktu untuk Syukur dan Evaluasi

Lebih dari sekadar perayaan, Idulfitri dalam konteks Syawal seharusnya menjadi momen bagi umat Islam untuk bertanya pada diri sendiri, apakah amal ibadah yang dilakukan selama Ramadan diterima oleh Allah SWT? Ini adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi diri dan terus meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak.

Sebagai contoh, pada saat umat Islam mengucapkan doa Taqabbalallahu minna wa minkum ("Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian"), terdapat kesadaran bahwa amalan selama Ramadan bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk merasa "menang" atau "suci." Sebaliknya, itu adalah pengingat bahwa kita harus terus berusaha memperbaiki atau mngevaluasi diri.

Jadi, meskipun Syawal menjadi bulan yang penuh kebahagiaan dan kegembiraan, menyebutnya sebagai bulan kemenangan perlu direnungkan kembali. Menurut Quraish Shihab, kemenangan melawan hawa nafsu dan godaan setan adalah perjalanan yang tidak pernah berakhir. Dalam hal ini, lebih tepat jika kita menyebut Idulfitri sebagai hari kembali, sebagai hari untuk merefleksikan diri dan memulai lembaran baru yang lebih baik.

Dengan demikian, bulan Syawal merupakan momen yang tepat untuk terus menjaga semangat ibadah dan kebajikan yang telah kita bangun selama Ramadan, bukan hanya sebagai bentuk kemenangan, tetapi sebagai bentuk keikhlasan dan kesadaran akan ketidakberdayaan kita tanpa rahmat dan ampunan Allah SWT.

Pada akhirnya, Syawal adalah kesempatan bagi umat Islam untuk kembali kepada Allah, menjaga kontinuitas ibadah, serta meningkatkan kualitas diri. Bukannya merayakan kemenangan dengan berlebihan, kita seharusnya bersyukur atas setiap amal ibadah yang diterima, dan mempersiapkan diri untuk tantangan spiritual selanjutnya, karena perjalanan menuju kesempurnaan diri tak mengenal akhir.

KEYWORD :

Bulan Syawal Bulan Kemenangan Makna Syawal Idul Fitri




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :