
Diplomat senior Ple Priatna. Foto: priatna/jurnas
JAKARTA, Jurnas.com – Sikap pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai lucu. Kalah dalam persaingan dagang, pemerintah Amerika Serikat (AS), khususnya Trump, menyalahkan negara lain.
“Negara maju kalah dalam persaingan dagang dan marah lalu menjatuhkan sanksi tarif, mengerem laju masuknya produk impor dengan menaikan tarif 20% untuk produk senilai US$3 triliun atau sekitar Rp50 kuadriliun yang diimpor setiap tahunnya ke AS,” kata diplomat senior Ple Priatna di Jakarta, Kamis (3/4/2025).
Menurut Priatna, China menjadi target utama perang dagang dan perang politik AS.
Presiden Donald Trump melalui Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) merilis daftar 58 negara, penyebab defisit dan penghambat akses produk ekspor AS, termasuk Indonesia.
“Presiden AS Donald Trump belakangan meyakini dinamika perubahan global harus ditanggapi dengan menebar "perang" berikut pertempuran di banyak medan laga, ekonomi, politik dan militer,” kata Ketua Bidang Advokasi dan Diplomasi Pusat Solidaritas Palestina DPP Gelora Indonesia ini.
Priatna mengatakan, kebijakan baru AS menghadapi kedodoran di sana-sini, semua hal yang melemahkan AS (sekalipun ini faktor produktivitas domestiknya) dan memberi keunggulan pada asing, langsung dipersepsikan AS sebagai ancaman nasional.
“Mencari dalih adalah resep untuk menghadapi kekalahan dalam persaingan dagang di sana-sini. Sementara AS secara militer, terang-terangan menjadi saudara kembar Israel, bersekutu untuk membeli dan mengusir warga Gaza dan berperang dengan Yaman dan bahkan Iran,” tegas Priatna.
Harus Direspon Cepat, Kebijakan Trump Dikhawatirkan Berpengaruh Negatif ke Industri Dalam Negeri
Priatna menilai, AS terus mencari justifikasi dan momentum untuk bisa terlibat secara frontal, melakukan invasi militer. Yaman dan Iran, menjadi bulan-bulanan tak pernah lepas selalu dianggap ancaman. Hanya zionis Israel dan Netanyahu yang menjadi kuasa kembar sekutu AS di kancah internasional.
“Tak heran, Donald Trump mendiamkan, menutup mata dan telinga, ketika kembali zionis Israel melakukan genosida -menggempur secara keji- warga sipil di Gaza dengan puluhan bom, di hari Iedul Fitri. Ratusan warga sipil, wanita dan anak-anak, yang tidak bersalah ini tewas mengenaskan, di saat merayakan Idul Fitri,” kata Priatna.
Bahkan Paus Fransiskus, pemimpin gereja katolik Vatikan pun berulang mengecam genosida Israel dan mendesak untuk menghentikan pembantaian itu. Namun, lagi lagi Israel dan AS tidak mau mendengar.
Tak puas, disaat Idul Fitri ini pun Menteri Pertahanan Israel, Katz, melontarkan ancaman, rencana operasi aneksasi Gaza. Agresi militer berdarah merampas rumah dan mengusir warga dari zona keamanan Israel.
“Lagi dunia tidak berdaya melawan Israel. AS yang bangkrut secara moral, lagi lagi memberi kekebalan, imunitas dan impunitas pada Israel, untuk itu pun pemerintah AS dan Kongres AS bahkan memberi sanksi pada hakim Mahkamah Internasional, yang menjatuhkan status Netanyahu dan Gants sebagai penjahat perang. Pemerintah Trump pun memerangi Mahkamah Internasional institusi PBB yang menghukum Israel,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Priatna melihat AS juga memusuhi tetangga sebelahnya Kanada. AS tidak suka dengan Mexico. Pemerintah AS ingin menghukum China. Trump ingin mengambil alih Terusan Panama, Greenland, dan Gaza. AS ingin ubah tata kelola berdasar piagam PBB dan hukum internasional mengikuti kehendak sepihak AS. Berkutat dengan dalihnya sendiri AS menabuh perang dengan Yaman.
Sdedangkan untuk bertempur dengan China soal Taiwan dan Laut China Selatan, AS mempersenjatai sekutunya, Filipina dengan jet tempur F-16 senilai USD 5,58 miliar.
“Semua mau diperangi. Bayi lahir di AS, dari orang tua imigran warga negara AS pun, tidak otomatis diterima jadi warga negara. Birthright citizenship, bayi yang lahir dianggap ancaman bagi AS,” katanya.
Priatna menuturkan, para imigran dari Mexico, Colombia dan Venezuela menjadi kambing hitam sebagai penyebar fentanil ke AS. Pemasok narkoba dan suburnya kejahatan gangster.
Pemerintah AS juga marah saat demo anti Tesla merangsek membakar dealer mobil atau gudang milik Elon Musk ini, dan para perusuh anti Tesla, yang mencorat coret dinding Tesla pun dihukum dilabeli status menyeramkan sebagai teroris dalam negeri.
Priatna juga menyebut, Trump sebagai peniup terompet rusuh dan kisruh ini pun berkelahi dengan lembaga peradilan di AS, hingga ke Mahkamah Agung. Para pakar hukum di AS percaya ini bisa menjadi krisis konstitusional, akibat penafsiran Donald Trump kebijakan eksekutifnya tidak boleh dikoreksi lembaga pengadilan.
“Sekurang-kurangnya 68 gugatan diajukan melalui peradilan distrik dan federal untuk membatalkan Keppres (keputusan presiden) yang merugikan dan tidak menyenangkan warga, termasuk gugatan deportasi.”
“Bayangkan AS menggunakan hukum perang abad 18 (the Alien Enemies Act of 1798 ) yang amat kadaluarsa ini untuk memerangi dan mendeportasi para imigran tak berdokumen, pemasok fentanil, narkoba dan bahkan juga melabeli protes anti Tesla sebagai teroris.”
Belum lagi, kebebasan berbicara para aktivis mahasiswa asing dan demo anti genosida, memprotes pembantaian anak-anak dan wanita di Gaza-Palestina, langsung dicap sebagai anti Semit.
“AS melakukan pelanggaran HAM atas freedom of speech di rumahnya sendiri demi melindungi Israel, dan mengancam mencabut visa dan ijin tinggal para aktivis,” tegas Periatna.
“Luar biasa, 9 aktivis, termasuk Mahmoud Khalil, yang anti penjajahan Israel dan hanya meneriakkan hentikan genosida terhadap warga sipil dan anak-anak ini pun ditangkap dari apartemennya, dan dipenjara, tanpa didampingi pengacara untuk proses deportasi,” sambung Priatna.
“Presiden Trump menjadi gelap mata ketika Israel dikecam dunia dan para aktivis pembela HAM tumbuh sumbur di AS, membela hak warga Palestina,” imbuhnya,
AS dalam situasi terkepung oleh opsi kebijakannya sendiri. Kebijakan membendung China, baik dalam persaingan dagang maupun militer, dan bangkitnya aliansi Rusia, China, India dan Iran dalam BRICS, sementara AS pendukung Israel, pada saatnya menimbulkan kerumitan tanpa solusi mulus.
Priatna meyakini, retaliasi tarif menghadapi sikap proteksionis AS itu akan membangkitkan gelombang perang dagang di banyak kawasan. Inflasi, harga barang meningkat, dan warga AS harus menyiapkan pengeluaran ekstra, tak lain adalah sumber guncangan ekonomi tidak hanya bagi AS.
“Seolah di dalam negeri baik-baik saja, AS terus menyalakan api perang dengan Iran dan Yaman hanya untuk membela Israel. Luar biasa, kendali kuasa Netanyahu dan Israel atas Donald Trump,” tegasnya.
“Namun setiap kekerasan dan pengerahan kekuatan militer, ratusan bom Israel yang dibeli dari AS untuk menghancurkan pemukiman, tenda pengungsi, rumah sakit dan membunuh warga sipil yang tidak bersenjata, wanita dan anak-anak bahkan bayi- bayi disaksikan secara live ini, pasti akan berbalik menumbuhkan gelombang kewarasan, pemihakan dan hati nurani warga dunia, melawan genosida Israel,” tutur Priatna.
Opini dan narasi global melawan pemihakan AS dan Trump ini pada saatnya akan menghancurkan kredibilitas dan justifikasinya.
“Perang Vietnam (Vietkong) dan opini global anti perang dan penjajahan itu, membuat AS kehilangan muka dan menarik pasukan dari Vietnam. Sejarah kekalahan AS yang memalukan bisa berulang. Perlawanan narasi dan opini global ini pun sedang berlangsung,” pungkas Priatna.
KEYWORD :AS Donald Trump Perang tarif Militer Gaza