Berita

Akhir 2026, Trend Flexing Bergeser Bukan Lagi Barang tapi Healthy Lifestyle

Di Indonesia, lebih dari 500 event lari digelar di 34 provinsi dan lebih dari 200 kota sepanjang 2026

Jakarta, Jurnas.com- Kalau dulu akhir pekan identik dengan party, nongkrong sampai pagi, atau menunjukkan gadget dan barang terbaru di media sosial, kini ada pemandangan lain yang semakin mudah ditemui anak muda bangun pagi untuk long run, antre di run club, menghabiskan waktu di gym, bermain padel, atau bersiap menghadapi kompetisi HYROX. Gaya hidup sehat perlahan tidak lagi sekadar aktivitas untuk menjaga kebugaran, tetapi menjadi bagian dari cara generasi muda bersosialisasi, mencari pengalaman, sekaligus menunjukkan pencapaian.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin besarnya antusiasme terhadap olahraga berbasis komunitas dan kompetisi. Di Indonesia, lebih dari 500 event lari digelar di 34 provinsi dan lebih dari 200 kota sepanjang 2026, sementara jumlah running club di Indonesia disebut meningkat hampir enam kali lipat pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, BTN Jakarta International Marathon 2026 diikuti 45.500 pelari, meningkat sekitar 47% dibandingkan penyelenggaraan 2025. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa lari telah berkembang jauh melampaui sekadar olahraga individu dan menjadi bagian dari kultur urban.

HYROX pun menjadi contoh menarik dari perubahan tersebut. Olahraga yang menggabungkan lari dan latihan fungsional ini semakin populer di kalangan urban professionals dan komunitas fitness. Pada Juni 2026, gelaran HYROX Jakarta bahkan menarik lebih dari 11.500 peserta dalam dua hari. Kementerian Pemuda dan Olahraga juga menyebut HYROX sebagai bagian dari fenomena baru hybrid fitness yang semakin populer di Indonesia. Artinya, flexing hari ini tidak selalu tentang “lihat apa yang gue punya”, tetapi bisa berubah menjadi “lihat apa yang berhasil gue capai” dari personal record di marathon sampai berhasil menyelesaikan HYROX.

Perubahan ini juga sejalan dengan munculnya gaya bersosialisasi yang lebih berorientasi pada kesehatan. Sejumlah pengamatan terhadap lifestyle anak muda menunjukkan adanya kecenderungan sebagian Gen Z dan milenial mengalihkan waktu dari hiburan malam ke aktivitas seperti gym, lari, dan olahraga komunitas. Bahkan, olahraga kini menjadi ruang baru untuk bertemu teman, membangun komunitas, hingga networking. Jadi, kalau dulu weekend plan adalah “mau ke mana malam ini?”, pertanyaannya sekarang bisa saja berubah menjadi “besok long run jam berapa?”.

Kesadaran anak muda untuk beralih ke gaya hidup aktif ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Di balik maraknya tren olahraga, kesadaran akan ancaman penyakit kronis juga mulai meningkat. Data epidemiologi mencatat lonjakan Penyakit Tidak Menular (PTM) pada Gen Z dan milenial akibat akumulasi gaya hidup sedenter, tinggi stres, serta pola makan yang kurang seimbang. Berbagai kondisi seperti Diabetes Tipe 2 (akibat tingginya konsumsi minuman manis), GERD, Obesitas, Hipertensi Dini, hingga gangguan postur dan mata (Computer Vision Syndrome) kini kian umum mendera anak muda. Olahraga pun menjadi langkah awal mereka untuk membentengi diri dari risiko-risiko tersebut.

Namun, ada satu hal yang menarik dari tren healthy lifestyle ini. Rajin olahraga, rutin lari, mengikuti HYROX, atau menjaga pola makan belum otomatis berarti kita benar-benar tahu kondisi tubuh. Angka pace dan jumlah kilometer memang bisa menjadi achievement, tetapi mengetahui kadar gula, kolesterol, tekanan darah, fungsi organ, serta faktor risiko kesehatan lainnya juga merupakan pencapaian yang tidak kalah penting. Sebab, beberapa kondisi kesehatan dapat berkembang tanpa gejala yang terasa.

Karena itu, menjelang akhir 2026, definisi flexing mungkin memang sudah waktunya diperluas. Healthy is the new flex. Bukan hanya menunjukkan seberapa jauh kita bisa berlari atau seberapa berat beban yang bisa diangkat, tetapi juga seberapa peduli kita untuk memahami kondisi tubuh sendiri. Knowing your body is a flex.

Menanggapi pergeseran tren ini, Reskia Dwi Lestari, Marketing Communications Manager Prodia, menyampaikan dukungannya terhadap gaya hidup aktif masyarakat urban.

"Kami sangat mengapresiasi antusiasme anak muda dalam mengejar pencapaian fisik. Namun, performa olahraga yang hebat tentu perlu didukung oleh kondisi organ dalam yang prima. Lewat kampanye #FlexYourHealth, Prodia ingin mengajak masyarakat memperluas definisi flexing: bukan hanya soal pace atau pencapaian fisik, tapi juga tentang seberapa baik kita memahami kondisi tubuh sendiri," ujar Reskia Dwi Lestari.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pergeseran gaya hidup sehat ini, Prodia menghadirkan promo diskon 30% untuk seluruh pemeriksaan selama periode 2–8 November 2026. Melalui penawaran ini, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah melakukan check-up berkala sebagai bagian dari rutinitas healthy lifestyle mereka. Informasi selengkapnya dapat ditemukan melalui akun Instagram @prodia_lab atau langsung diakses melalui aplikasi U by Prodia.