Berita

JD Vance Salahkan Diktator atas Lonjakan Harga BBM, Warganet Singgung Trump

Pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance tentang pemimpin diktator yang memicu lonjakan harga bensin menuai kritik di media sosial.

Jakarta, Jurnas.com - Pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance tentang pemimpin diktator yang memicu lonjakan harga bensin menuai kritik di media sosial.

Sejumlah pengguna internet membandingkan ucapannya dengan kebijakan Presiden Donald Trump, terutama ketika perang dengan Iran ikut mendorong kenaikan biaya bahan bakar di Amerika Serikat.

Vance menyampaikan pernyataan tersebut saat menghadiri sebuah kampanye politik di Mississippi. Dalam pidatonya, ia mengakui bahwa tingginya harga bensin dan inflasi masih menjadi sumber keresahan masyarakat Amerika.

“Sekarang Anda akan mendengar ... banyak orang mengatakan bahwa harga bensin terlalu tinggi, bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperbaiki inflasi buruk pada era Biden, inflasi tertinggi yang kita lihat dalam 50 tahun di negara kita, dan saya memahami hal itu. Saya setuju,” kata Vance.

Ia kemudian mengaitkan kenaikan harga bahan bakar dengan berbagai krisis internasional. Vance menyinggung lonjakan harga bensin setelah Rusia melancarkan perang terhadap Ukraina pada 2022, serta kenaikan yang terjadi pada 1979, 2001, dan 2007.

“Harga-harga itu melonjak setiap kali ada diktator kelas teri yang memutuskan untuk mengamuk. Namun, kita harus ingat bahwa solusi Partai Demokrat untuk masalah ini adalah mengeluh dan membangun beberapa kincir angin,” ujarnya.

Pernyataan tersebut segera menyebar di media sosial dan memicu kritik. Sejumlah pengguna menilai sebutan Vance tentang diktator yang menyebabkan lonjakan harga energi dapat berbalik menjadi kritik terhadap pemerintahan Trump sendiri, mengingat harga bahan bakar di Amerika Serikat meningkat di tengah perang dengan Iran.

Perdebatan itu menyoroti tekanan ekonomi yang dihadapi rumah tangga Amerika, khususnya ketika biaya pengisian bahan bakar menjadi perhatian publik. Kenaikan harga bensin juga menjadi isu politik menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November.

Pemimpin Minoritas Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, turut menyindir pernyataan Vance melalui platform media sosial X.

“Hal paling benar yang dikatakan @JDVance dalam waktu yang sangat, sangat lama,” tulis Schumer. (*)

Sumber: Anadolu