Gaya Hidup

Hujan Meteor Taurid Selatan Berpotensi Hadirkan Bola Api

Hujan meteor Taurid Selatan mencapai periode terbaik untuk menyaksikan kemunculan meteor terang atau fireball atau bola api pada malam 4 hingga 5 November 2026
Hujan meteor Taurid Selatan (Foto: Via Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Hujan meteor Taurid Selatan mencapai periode terbaik untuk menyaksikan kemunculan meteor terang atau fireball atau bola api pada malam 4 hingga 5 November 2026. Fenomena ini menjadi salah satu kesempatan menarik bagi pengamat langit untuk melihat kilatan cahaya yang sesekali tampak sangat terang di langit malam.

Meski tergolong hujan meteor minor dengan jumlah hanya beberapa meteor per jam, Taurid Selatan dikenal karena kemunculan bola api yang lebih terang dibandingkan meteor biasa. NASA mendefinisikan fireball sebagai meteor dengan tingkat kecerlangan setidaknya setara planet Venus.

Hujan meteor Taurid Selatan sebenarnya telah aktif selama beberapa pekan pada musim gugur dan mencapai puncak aktivitas regulernya pada 14 Oktober. Namun, American Meteor Society memperkirakan komponen fireball swarm atau kemunculan kelompok bola api akan mencapai puncaknya pada 4–5 November.

Meteor Taurid Selatan dapat melintas di berbagai bagian langit. Namun, meteor-meteor dalam hujan ini tampak seolah berasal dari arah rasi bintang Taurus yang mulai terbit di langit timur ketika malam tiba.

Posisi rasi Taurus akan semakin tinggi seiring berjalannya malam. Karena itu, waktu sekitar tengah malam menjadi salah satu periode yang baik untuk mengamati kemunculan meteor.

Berbeda dengan hujan meteor besar seperti Perseid dan Geminid yang memiliki periode puncak lebih spesifik, Taurid Selatan mempunyai rentang puncak yang cukup lebar. Pengamat tidak harus berada di luar ruangan pada jam tertentu untuk meningkatkan peluang melihat meteor.

Pengamatan juga dapat dilakukan tanpa teleskop. Mata telanjang justru menjadi pilihan terbaik karena memungkinkan pengamat melihat area langit yang lebih luas.

Taurid Selatan bukan satu-satunya hujan meteor yang berpotensi menghadirkan bola api sepanjang November. Hujan meteor Taurid Utara diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 11 hingga 12 November.

Kedua fenomena tersebut berasal dari debu dan serpihan yang ditinggalkan Komet 2P/Encke di wilayah bagian dalam Tata Surya. Material tersebut memasuki atmosfer Bumi dan menghasilkan kilatan cahaya yang terlihat sebagai meteor.

Komet Encke ditemukan pada 1786 dan memiliki diameter sekitar 4,8 kilometer. Berdasarkan informasi NASA, ukurannya kira-kira sepertiga dari objek yang diperkirakan menyebabkan kepunahan dinosaurus non-unggas.

Komet tersebut mengorbit Matahari setiap 3,3 tahun, termasuk salah satu periode orbit terpendek yang diketahui di antara komet-komet dalam Tata Surya. Para ilmuwan juga memperkirakan Encke merupakan salah satu pecahan dari komet raksasa yang terbelah sekitar 20.000 hingga 30.000 tahun lalu.

Setelah Taurid Selatan dan Taurid Utara, pengamat langit masih memiliki sejumlah kesempatan untuk menyaksikan hujan meteor pada November dan Desember.

Hujan meteor Leonid diperkirakan mencapai puncak pada 17–18 November dengan intensitas sekitar 15 meteor per jam. Berikutnya, Geminid akan mencapai puncak pada 13–14 Desember dengan potensi hingga 120 meteor per jam di sekitar periode puncaknya.

Musim malam yang lebih panjang di belahan Bumi utara juga membuka lebih banyak kesempatan untuk mengamati fenomena langit. Salah satunya adalah rangkaian empat supermoon berturut-turut yang diperkirakan berlangsung mulai November 2026 hingga Februari 2027. (*)

Sumber: Live Science