News

Oman Evakuasi 25 ABK Korban Ranjau Iran di Selat Hormuz

Angkatan Laut Oman mengevakuasi 25 ABK usai peristiwa terbakarnya kapal tanker yang menjadi korban ranjau Iran di Selat Hormuz
Kapal tanker di Selat Hormuz (Foto: Reuters)

Muscat, Jurnas.com - Angkatan Laut Oman melaporkan telah berhasil mengoperasikan evakuasi dan menyelamatkan 25 anak buah kapal (ABK) kapal dagang RITI, yang terbakar usai menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz pada Jumat (30/10) kemarin.

Di saat bersamaan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menghentikan tiga kapal tanker minyak yang nekat menerobos jalur tersebut, karena dianggap memasuki perairan secara ilegal.

Dikutip dari AFP pada Sabtu (31/10), evakuasi dipimpin langsung oleh Pusat Keamanan Maritim Oman terhadap kapal tanker minyak mentah RITI yang berbendera Panama. Seluruh awak kapal langsung mendapatkan penanganan medis pasca-kebakaran di atas kapal.

Di tempat terpisah, badan keselamatan maritim Inggris, UKMTO, juga melaporkan insiden serangan di lokasi sekitar 40 mil laut sebelah selatan Pulau Lavan, Iran. Sebuah kapal dihantam proyektil tidak dikenal hingga memicu kebakaran hebat, meski seluruh awak kapal dipastikan selamat tanpa dampak lingkungan.

Supertanker 2 Juta Barel Disita Iran

Di Teheran, IRGC mengonfirmasi telah mencegat dan menghentikan tiga kapal tanker minyak di perairan selatan Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut dinilai melakukan pelanggaran dengan melintasi koridor selatan di dekat pantai Oman yang telah ditetapkan sebagai rute terlarang.

Menurut keterangan IRGC, kapal-kapal tersebut secara sengaja mematikan seluruh sistem navigasi dan penentuan posisi mereka sembari mencoba keluar rute dengan dukungan militer Amerika Serikat (AS). Peringatan radio dari pihak militer Iran pun diabaikan oleh kapal-kapal tersebut.

Salah satu kapal yang terhenti merupakan supertanker bermuatan 2 juta barel minyak mentah yang meledak dan terbakar usai menabrak ranjau laut. Insiden ini terjadi sehari setelah angkatan bersenjata Iran melaporkan sedikitnya empat tanker terhenti di area yang sama.

Situasi di Selat Hormuz kian meruncing sejak pecahnya perang pada 28 Februari akibat serangan AS-Israel terhadap Iran. Padahal, jalur perairan sempit ini merupakan urat nadi energi yang mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak global.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, menyatakan bahwa pasukan AS telah berhasil membersihkan ranjau laut Iran di jalur transit internasional. CENTCOM menegaskan kehadiran militernya untuk memastikan keamanan pelayaran, serta mengklaim telah membantu mengawal ekspor lebih dari 1,5 miliar barel minyak mentah dari negara-negara Teluk sejak musim panas.

Namun, pengetatan rute oleh Iran direspons AS dengan menerapkan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pihak Teheran sendiri tetap menuntut agar seluruh kapal asing wajib berkoordinasi dengan militer Iran dan mematuhi rute pelayaran resmi yang telah ditentukan.