News

Sumpah Pemuda Tonggak Penting Masa Depan Indonesia

Dialog nasional Sumpah Pemuda ini diharapkan dapat menghasilkan satu pemahaman untuk merawat dan membangun Indonesia bersama.
Dialog Nasional untuk Negeri, Menuju 1 Abad Sumpah Pemuda yang digelar Swarna Dwipa Institute (SDI) di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Sabtu (31/10/2026). Foto: tangkapanlayar

JAKARTA, Jurnas.com - Peringatan Sumpah Pemuda merupakan tonggak penting bagi kesadaran rakyat Indonesia, khususnya para pemuda dalam menatap masa depan Indonesia yang lebih baik.

Demikian disampaikan Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) Mugiyanto Sipin saat memberikan pidato kunci atau keynote speech dalam Dialog Nasional untuk Negeri, Menuju 1 Abad Sumpah Pemuda Indonesia (Pemikiran, Semangat & Implementasi Menuju Indonesia Emas) yang digelar Swarna Dwipa Institute (SDI) di Museum Sumpah Pemuda Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Mugiyanto mengatakan, anak-anak muda nusantara ketika itu menghilangkan sekat-sekat di antara mereka, baik sekat suku, bahasa, agama, dan sekat lainnya. Mereka disatukan oleh satu mimpi yakni memiliki sebuah negara yang saat ini bernama Indonesia.

"Kualitas seperti itulah yang diperlukan saat ini. Generasi muda yang mampu melihat dinamika global," kata Mugiyanto.

Ia juga berharap agar generasi muda tetap memiliki sikap kritis, sehingga tidak terombang-ambing oleh berbagai dinamika yang terjadi di tengah masyarakat.

Mugiyanto mengakui, saat ini masih ada konflik dan ketimpangan di berbagai bidang. "Kunci utamanya adalah persatuan dan terus merawat ke-Indonesiaan yang disertai dengan implementasi hak asasi manusia yang menegaskan bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama di berbagai bidang," katanya.

Sebelumnya, pendiri SDI Frans Immanuel Saragih dalam pidato sambutannya menyampaikan bahwa penyelenggaraan dialog nasional ini sebagai upaya mencoba memaknai perjalanan sumpah pemuda menuju Indonesia emas.

"SDI ini bukan gerakan politik. Tapi merupakan wadah berkumpulnya lintas generasi untuk berdialog membangun bangsa," kata Frans.

Frans optimistis, dengan nara sumber yang berasal dari berbagai latar belakang dan generasi, dialog nasional Sumpah Pemuda ini diharapkan dapat menghasilkan satu pemahaman untuk merawat dan membangun Indonesia bersama.

Pada seri dialog, akademisi Romo Franz Magnis Suseno menyampaikan, dalam upaya membangun Indonesia yang lebih baik, generasi muda harus memahami akar sejarah kenapa dan bagaimana negara Indonesia lahir dan dibentuk oleh para pendiri bangsa, termasuk yang diikrarkan oleh para pemuda pada 28 Oktober 1928, yakni bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Begitu pula harus dipahami bagaimana para pendahulu membangun bangsa Indonesia dengan ideologi Pancasila.

"Bagi saya pribadi, Pancasila merupakan ideologi negara yang sangat luar biasa. Sebuah ideologi yang dapat merekatkan berbagai macam perbedaan yang ada di tanah air, tanpa melihat suku, ras, dan golongan," ujar Romo Franz.

Sedangkan Warsito Ellwein dari Agenda 45 menyampaikan bahwa bicara nasionalisme saat ini semakin kompleks akibat batas negara semakin tipis. Sehingga simbol-simbol negara menjadi sangat penting diingat untuk menumbuhkan semangat nasionalisme.

"Tetapi lebih penting lagi adalah bagaimana melahirkan nasionalisme yang substansial. Siapa dan di mana pun orang Indonesia harus dihargai dan dilindungi. Semua rakyat Indonesia juga harus mendapatkan akses yang sama, baik akses ekonomi, politik, pendidikan, dan akses lainnya. Sehingga dalam pembangunan Indonesia tidak ada yang tertinggal," ujar Warsito.

Warsito menyampaikan, untuk mencapai Indonesia emas setidaknya harus memiliki tiga fokus dalam pembangunan. Pertama, jesejahteraan bersama. Kesejahteraan jangan hanya dinikmati oleh sekelompok orang.

Kedua, keadilan sosial, yaitu keadilan yang tidak hanya berbasis hukum formal seperti KUHP dan perangkat hukum lainnya, tetapi harus berbasis keadilan berdasarkan kelompok-kelompok sosial yang ada dan tumbuh di masyarakat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Ketiga, pembangunan juga harus fokus kepada kelestarian lingkungan hidup, yakni pembangunan keberlanjutan bagi generasi mendatang.

Sedangkan Peneliti Senior SDI Febby Lintang menegaskan bahwa Indonesia emas jangan hanya diukur berdasarkan angka-angka. Tapi harus menghasilkan pembangunan yang inklusif. Semua rakyat Indonesia memiliki hak yang sama, termasuk kelompok berkebutuhan khusus.

Jadi indikatornya bukan hanya keberhasilan makro tetapi bagaimana mengentaskan kelompok rentan seperti perempuan dan disabilitas.

“Kelompok rentan ini sering terkena stigma negatif, akses ekonomi terbatas, termasuk akses pendidikan, dan akses lainnya,” ujar Febby.

“Pendidikan adalah kunci keluar dari kemiskinan. Jadi akses harus diberikan sama dan merata bagi semua. Indonesia emas tidak akan tercapai bila masih ada yang tertinggal,” imbuh Febby.

Sementara Ulung Rusman dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) menegaskan jangan pernah berkecil hati melihat dinamika dan berbagai persoalan dalam bernegara saat ini. “Tetap optimis dan bermimpi besar seperti semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,” kata Ulung.

“Mudah-mudahan proses hari ini saya pikir sedikit banyak kita bisa pulang membawa hal-hal yang positif bagi pergerakan dan juga kelanjutan perjuangan kita ke depan,” tutup Ulung.

Pembicara terakhir, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Slamet Ariyadi menyampaikan bahwa sumpah pemuda digagas untuk mempersatukan. Tujuan utamanya adalah, bagaimana pemuda Indonesia menjadi sumbangsih utama untuk menuju Indonesia emas.

“Kita tidak ingin menyalahkan pemerintah. Kita harus membangun kolaborasi bagaimana meningkatkan dan membangkitkan semangat seluruh masyarakat agar menuju Indonesia emas,” ujar Slamet Ariyadi.